Jepang Tertarik pada Inovasi Taman Numerasi Indonesia, Apa Itu?

Pembelajaran Berbasis Murid di Indonesia
Indonesia kini aktif mengadopsi pendekatan pembelajaran berpusat pada murid (Student Based Learning/SBL) yang berasal dari Jepang. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Salah satu inovasi terbaru yang muncul dalam proses ini adalah "Taman Numerasi", sebuah area belajar yang dirancang untuk menjadi lebih menyenangkan, interaktif, dan kolaboratif.
Taman Numerasi bertujuan untuk menghubungkan pembelajaran numerasi dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep matematika, tetapi juga dapat menggunakannya dalam situasi sehari-hari. Pendekatan ini mendorong minat siswa, meningkatkan keterampilan numerasi, serta memperkuat kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif.
Inisiatif Taman Numerasi merupakan bagian dari Gerakan Numerasi Nasional. Gerakan ini memiliki tujuan untuk memperkuat sumber daya manusia Indonesia di bidang Matematika, Sains, Teknologi, dan Pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong penguatan gerakan ini di satuan pendidikan sebagai bagian dari transformasi pembelajaran.
Sejalan dengan upaya tersebut, SDN 04 Meruya Selatan menghadirkan inovasi pembelajaran bertajuk INTAN (Inovasi Taman Numerasi). Inovasi ini dianggap sebagai langkah strategis untuk membangun budaya numerasi yang menyenangkan, kontekstual, dan berkelanjutan bagi peserta didik.
Berlokasi di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Taman Numerasi INTAN dirancang sebagai ruang belajar interaktif. Ruang ini memfasilitasi siswa dalam memahami konsep matematika melalui media konkret, permainan edukatif, serta aktivitas berbasis proyek.
Pendekatan ini tidak hanya membantu siswa terampil berhitung, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kritis, logis, dan sistematis dalam memecahkan masalah sehari-hari. Melalui INTAN, sekolah menyediakan beragam sudut numerasi yang dilengkapi alat peraga, papan interaktif, media visual, serta tantangan numerik sesuai jenjang kelas.
Suasana belajar di Taman Numerasi dikemas secara terbuka dan kolaboratif. Hal ini memungkinkan siswa belajar sambil bermain dalam lingkungan yang inspiratif. Upaya ini disampaikan oleh Kepala SDN 04 Meruya Selatan, Tri Susilawati. Ia menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.
“Kami ingin numerasi menjadi budaya, bukan sekadar materi pelajaran. Melalui Taman Numerasi INTAN, siswa belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Harapannya, mereka tidak lagi merasa takut dengan matematika, tetapi justru tertantang untuk mengeksplorasi,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, salah satu guru, Komala Sari, menambahkan bahwa INTAN dirancang agar siswa belajar secara aktif dan kontekstual. “Kami menghadirkan media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan begitu, mereka memahami bahwa numerasi hadir di sekitar mereka. Anak-anak menjadi lebih percaya diri saat menyelesaikan tantangan numerik karena belajar sambil bermain,” jelasnya.
Sementara itu, guru lainnya, Rindy Afrizal, turut mengapresiasi implementasi Taman Numerasi sebagai inovasi yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran. “Inovasi seperti INTAN menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari sekolah. Ketika guru kreatif dan sekolah memberikan ruang eksplorasi, siswa akan tumbuh menjadi pembelajar yang aktif dan adaptif. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang membangun pola pikir,” ungkapnya.
Keunggulan Taman Numerasi
Taman Numerasi ini menawarkan keunggulan unik bagi Indonesia dengan menghadirkan lingkungan fisik yang dirancang secara khusus untuk mendukung pembelajaran mendalam terintegrasi dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Berbeda dengan praktik di Jepang yang memanfaatkan lingkungan sekitar dan mendorong eksperimen secara kontekstual, Taman Numerasi di Indonesia hadir sebagai pendekatan yang lebih terstruktur. Ruang belajar interaktif ini secara eksplisit berfokus pada penguatan numerasi secara luas.
Melalui konsep ini, murid tidak hanya mempelajari fakta, tetapi juga menerapkan pengetahuan ilmiah untuk memecahkan persoalan nyata. Hal ini sejalan dengan semangat pembelajaran berpusat pada murid sebagaimana berkembang di Jepang.
Konsep tersebut menarik perhatian Profesor Sakai Chihiro dari Universitas Hokkaido, Jepang, yang berkunjung langsung untuk melihat dan berinteraksi bersama guru serta murid di SDN 04 Meruya Selatan dalam proses pembelajaran berbasis inovasi INTAN.