Waspada Penipuan Digital Sebelum THR Cair, Ini Berbagai Modusnya

Masyarakat Diimbau Waspada Terhadap Penipuan Digital Saat THR Lebaran
Para pekerja mulai menerima Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran sejak pekan ini. Momentum ini tidak hanya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berbelanja dan bersilaturahmi, tetapi juga menjadi waktu yang sering dimanfaatkan oleh pelaku penipuan digital. Berdasarkan data dari perusahaan infrastruktur digital, PT Indonesia Digital Identity atau VIDA, terjadi lonjakan kasus penipuan digital menjelang dan saat pencairan THR.
Peningkatan aktivitas transaksi dan mobilitas masyarakat secara tidak langsung membuka lebih banyak celah bagi pelaku kejahatan siber. Oleh karena itu, para ahli menyarankan masyarakat untuk lebih waspada dan memahami berbagai modus penipuan yang mungkin terjadi.
Modus Penipuan yang Perlu Diwaspadai
Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan bahwa penipuan selalu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku akan mencari celah baru dengan metode yang lebih kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan kelemahan literasi digital serta momen tertentu seperti THR untuk melancarkan aksi mereka.
Niki menyebutkan dua modus penipuan yang paling sering terjadi:
-
Phishing atau Smishing
Metode ini melibatkan berbagai cara untuk memancing korban mengklik tautan dan memasukkan data pribadi seperti username, password, dan One-Time Password (OTP) via SMS. Pelaku bisa menyamar sebagai instansi logistik atau memberikan tawaran promo Ramadhan palsu dari nomor tidak dikenal.
Modus ini juga berkembang melalui metode fake BTS yang tahun lalu ramai dan ditemukan oleh pemerintah. Pesan palsu terkirim secara massal dan tampak seolah berasal dari institusi resmi, sehingga terlihat meyakinkan bagi penerima. -
Malware
Metode penipuan ini memancing korban untuk mengunduh aplikasi berbahaya dalam bentuk file APK. Modus yang digunakan beragam dan paling sering ditemukan adalah pelaku mengirim dokumen seolah itu adalah dokumen penting seperti dokumen status pengiriman paket, undangan pernikahan, atau dokumen lain yang tampak relevan bagi korban.
Jika tidak jeli, setelah terunduh, aplikasi tersebut dapat terpasang otomatis ke gawai korban dan memungkinkan pelaku memantau perangkat dari jarak jauh, termasuk mengakses password serta berbagai informasi sensitif yang tersimpan maupun digunakan di dalam perangkat.
Kedua modus ini memiliki pola yang serupa, yaitu berupaya memperoleh akses terhadap password atau kredensial pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa password semata tidak lagi cukup menjadi benteng keamanan di era digital yang semakin kompleks.
Dua Aspek yang Harus Dilindungi
Untuk mencegah penipuan ini menjerat masyarakat di masa jelang Lebaran tahun ini, Niki menyebutkan ada dua aspek yang harus dilindungi yakni perangkat yang dimiliki serta identitas biometrik. Keduanya berkaitan erat karena perangkat yang dimiliki merujuk pada ponsel pintar, tablet, maupun laptop yang mungkin menyimpan akses identitas digital yang penting sebagai gerbang menuju layanan krusial seperti layanan finansial.
Maka dari itu, memberikan proteksi tambahan pada perangkat yang dimiliki menjadi penting agar kejadian-kejadian penipuan ini tidak membobol akses krusial.
Gerakan #JanganAsalKlik
VIDA juga mendorong gerakan bernama #JanganAsalKlik agar masyarakat di momen penting jelang pencairan THR bisa lebih teliti saat menerima pesan digital. Masyarakat baiknya tidak sembarang mengklik tautan, mengunduh aplikasi, maupun membagikan informasi pribadi agar tak terjerat modus-modus penipuan tersebut.
Dengan kesadaran yang tinggi dan langkah-langkah pencegahan yang tepat, masyarakat dapat melindungi diri dari ancaman penipuan digital, terutama saat momentum THR Lebaran.