Warga Semarang Kesulitan Cari Uang Pecahan Baru Online via Web BI

Antrean Penukaran Uang Baru di Semarang Menjadi Tantangan Bagi Warga
Jelang Lebaran, permintaan uang pecahan baru di Kota Semarang meningkat tajam. Meski Bank Indonesia (BI) menyediakan sistem penukaran uang secara daring melalui situs www.pintar.bi.go.id, antrean yang panjang membuat banyak warga kesulitan untuk mendapatkan slot penukaran.
Banyak masyarakat harus bersaing ketat dalam ruang tunggu digital, dan beberapa bahkan memilih cara lain karena terlalu lama menunggu. Salah satu warga yang mengalami hal ini adalah Dewa dari Kecamatan Gajahmungkur. Ia mencoba mengakses sistem penukaran uang via web pada hari pertama pembukaan layanan, namun menghadapi berbagai tantangan teknis.
Dewa mengatakan bahwa layanan penukaran uang dibuka sekitar pukul 08.00, tetapi ia baru bisa masuk sekitar pukul 10.00 karena terlambat bangun. Untuk mempercepat proses, ia menggunakan dua perangkat, yaitu ponsel dan komputer.
Namun, penggunaan ponsel tidak berjalan lancar. Sistem di ponsel dinilai sangat sensitif terhadap perubahan jaringan. “Kalau pakai HP harus terus dibuka. Kalau ditutup, pindah wifi, atau koneksi jelek, langsung refresh otomatis. Akhirnya malah reset lagi di waiting room,” katanya.
Berbeda dengan komputer yang digunakan secara bersamaan. Perangkat tersebut tetap berada di ruang tunggu sejak pukul 10.00. Meski sistem menampilkan estimasi waktu tunggu sekitar 15 menit, kenyataannya ia baru bisa masuk ke halaman pemilihan lokasi penukaran sekitar pukul 14.00. “Padahal di layar tertulis waiting room cuma 15 menit, tapi faktanya saya nunggu sampai 4 jam,” ujarnya.
Dewa juga mengaku sempat kebingungan dengan estimasi waktu yang berubah-ubah di layar. “Kadang sudah tinggal 7 menit, tiba-tiba balik lagi jadi 10 menit,” bebernya. Ia menilai, sistem antrean tersebut masih perlu diperbaiki agar lebih transparan bagi masyarakat. “Kayaknya BI perlu memperbaiki sistem juga,” ucapnya.
Selain itu, Dewa mempertanyakan bagaimana para penukar uang di pinggir jalan bisa mendapatkan banyak uang baru, sementara masyarakat harus mengantre panjang melalui sistem resmi. “Kalau pakai sistem sekarang, harusnya mereka juga susah dapat uang baru,” ujarnya.
Saat akhirnya berhasil masuk ke sistem sekitar pukul 14.00, ia memilih lokasi penukaran di Bank DBS Jalan Pandanaran Semarang. Namun, jadwal yang tersedia sudah cukup jauh, karena slot penukaran di Semarang pada hari pertama langsung habis. “Yang tersedia antrean paling pagi itu tanggal 11 Maret di Bank DBS Pandanaran,” tuturnya.
Ia juga mengetahui dari cerita warga lain bahwa kuota penukaran di Semarang sudah habis pada hari pertama, bahkan sebelum sore hari. “Dari cerita Bu RT saya, sore setelah pulang kerja sudah tidak bisa dapat lokasi Semarang karena habis,” jelasnya.
Dewa mengatakan, penggunaan komputer dengan jaringan stabil menjadi cara paling aman untuk mengikuti antrean penukaran uang secara daring. Ia bahkan menggunakan dua layar monitor agar halaman antrean tetap terbuka tanpa harus diminimalkan. “Pakai PC paling aman, jaringan stabil dan tidak refresh otomatis. Saya pakai dua monitor, jadi tinggal geser saja ke layar sebelah,” terangnya.
Dalam jadwal yang ia dapatkan, Dewa berencana menukar uang sebesar Rp 800 ribu dalam berbagai pecahan kecil untuk kebutuhan Lebaran.
Pengalaman Berbeda dari Andika Setyanto
Sementara itu, pengalaman berbeda dialami Andika Setyanto, warga Semarang Utara. Ia mengaku sempat mencoba mengikuti antrean penukaran uang secara daring, namun tidak berhasil mendapatkan jadwal. “Saya sudah coba masuk, tapi lama sekali di waiting room. Akhirnya saya menyerah,” ucapnya.
Menurutnya, sistem antrean yang panjang membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan slot penukaran uang. Karena itu, ia memilih mencari alternatif lain untuk mendapatkan uang pecahan kecil menjelang Lebaran. “Kalau memang tidak dapat di sistem, ya kemungkinan cari di tempat lain atau tukar ke orang yang punya pecahan kecil,” katanya.