Xiaomi Uji Robot Humanoid di Pabrik Mobil Listrik

Table of Contents
Xiaomi Uji Robot Humanoid di Pabrik Mobil Listrik

Penggunaan Robot Humanoid di Pabrik Xiaomi

Xiaomi, perusahaan teknologi asal Tiongkok, sedang menguji penggunaan robot humanoid di pabrik mobil listriknya. Dua robot tersebut dikerahkan untuk melakukan tugas seperti memasang mur dan memindahkan barang dengan tingkat keberhasilan sekitar 90 persen. Mereka mampu mengikuti kecepatan lini produksi Xiaomi yang menghasilkan satu mobil setiap 76 detik.

Teknologi robot humanoid masih dalam tahap uji coba, namun Tiongkok diprediksi akan menjadi pemain utama dalam pasar robot humanoid global di masa depan. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menyampaikan hal ini dalam sebuah wawancara di sela-sela pameran teknologi Mobile World Congress (MWC) yang digelar di Barcelona.

Penggunaan robot tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas produksi. Meski masih dalam tahap percobaan, robot tersebut dinilai mampu mengikuti ritme kerja lini perakitan dan berpotensi menggantikan manusia pada beberapa pekerjaan tertentu di masa depan.

"Untuk mengintegrasikan robot ke dalam lini produksi kami, tantangan terbesarnya adalah agar mereka dapat mengikuti kecepatan kerja," kata Lu Weibing kepada CNBC.

Di pabrik mobil Xiaomi, setiap 76 detik, satu mobil baru keluar dari jalur perakitan. Kedua robot humanoid itu mampu mengikuti kecepatan kerja perusahaan. Bagi Xiaomi, penggunaan robot tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.

Robot humanoid dinilai mampu menggantikan peran manusia untuk pekerjaan tertentu dan dapat menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan manusia. Namun, penggunaan robot ini masih dalam tahap uji coba awal.

"Robot di lini produksi kami tidak melakukan pekerjaan resmi, lebih seperti para pekerja magang saja," ujar Weibing.

Upaya ini menyoroti kecepatan perusahaan-perusahaan Tiongkok dalam berinvestasi dan meningkatkan kemampuannya dalam bidang robotik. Banyak perusahaan Tiongkok yang mengembangkan teknologi tersebut, dan beberapa di antaranya baru saja melakukan penawaran umum perdana (IPO), seperti Deep Robotics.

Analis dari RBC Capital Market memperkirakan bahwa pasar robot humanoid secara global mencapai 9 triliun dolar AS pada tahun 2050, dan 60 persen di antaranya berasal dari Tiongkok. Meskipun demikian, Weibing menilai bahwa masih terlalu dini untuk memproyeksikan pasar robot humanoid, meskipun dia optimistis akan bisnis tersebut.

Xiaomi sendiri baru memperkenalkan robot humanoidnya bernama CyberOne pada tahun 2022. Namun, robot ini belum dijual secara komersial.

Kemampuan Canggih Robot Humanoid Tiongkok

Kemampuan robot humanoid buatan Tiongkok kini meningkat pesat. Jika sebelumnya robot-robot ini viral karena ikut marathon atau mampu berenang, kini kemampuannya jauh lebih impresif. Robot humanoid Tiongkok kini bisa menari pedang, melakukan gerakan kungfu, hingga salto dengan luwes.

Aksi tersebut ditampilkan dalam acara tahunan CCTV Spring Festival Gala, program televisi paling banyak ditonton di Tiongkok saat perayaan Tahun Baru Imlek. Robot-robot humanoid tersebut dibuat oleh empat perusahaan robotik asal Tiongkok, yaitu Unitree Robotics, Galbot, Noetix, dan MagicLab.

Di atas panggung, lebih dari selusin robot bikinan Unitree memperagakan rangkaian gerakan kungfu berpasangan dengan manusia secara natural dan luwes. Mereka melakukan adegan pertarungan, kuda-kuda, lengkap dengan ayunan tongkat dan nunchaku. Yang paling mencuri perhatian, beberapa robot mampu melakukan salto berulang kali dengan stabil.

Mereka juga dapat bangkit kembali dengan cepat setelah terjatuh, menunjukkan peningkatan signifikan dalam sistem keseimbangan. Dari video yang ditayangkan oleh outlet media Al Jazeera dan NBC News, robot-robot humanoid ini juga mampu menggenggam pedang dengan kuat tanpa terjatuh. Mereka mengayunkan pedang dalam gerakan yang menyerupai tari pedang tradisional.

Gerakan tangannya terlihat semakin menyerupai tangan manusia karena sudah bisa bergerak ke berbagai arah dengan alami dan luwes. Padahal selama ini, robot humanoid kerap dicap kaku dan kurang fleksibel dalam gerakan dinamis.

Sementara itu, empat robot humanoid dari Noetix tampil berdampingan dengan aktor manusia dalam segmen komedi. Kemudian, robot MagicLab membawakan tarian sinkron bersama penampil manusia saat lagu “We Are Made in China” dimainkan.

Di balik aksi spektakuler seperti kungfu dan salto, pengembangan robot humanoid ini sejatinya diarahkan untuk kebutuhan industri dan manufaktur. Kemampuan kontrol gerak luwes, koordinasi banyak robot sekaligus, hingga kontrol pada objek kecil menjadi fondasi penting untuk aplikasi nyata di pabrik dan pusat logistik.

Sejauh ini, penerapan di dunia nyata masih terbatas pada proyek percontohan yang umumnya didukung kontrak atau kerja sama khusus.